Ada beragam cara yang bisa dilakukan takmir masjid untuk mengajak seseorang agar rajin shalat berjamaah di masjid. Berikut ini salah satu contohnya.
Selepas shalat Maghrib seperti biasa beberapa pengurus dan jamaah menyempatkan untuk berbincang-bincang. Seorang pengurus tampak ngobrol dengan adik-adik Remas (Remaja Masjid).
"Takmir ingin membentuk Tim Penjenguk Orang Sakit. Tugasnya mencari orang-orang yang sakit menahun, seperti kanker, stroke, lumpuh, dan semacamnya. Selanjutnya menjenguk, mendoakan, serta membawakan oleh-oleh untuk menggembirakan mereka. Bagaimana jika tugas ini ditangani oleh Remas?" kata pengurus itu.
"Siap, insyaallah," kata adik-adik Remas.
"Keutamaan menjenguk orang sakit itu luar biasa. Kita juga perlu menambah variasi dakwah sosial. Keberadaan masjid ini harus semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," jelasnya.
"Bagaimana kami memulainya, Pak?"
"Kita tunjuk ketua tim dan anggotanya. Kemudian laksanakan tugas di atas, lalu tentukan jadwal penjengukan. Infokan kepada jamaah, bagi yang longgar bisa turut bergabung. Hadiahnya nanti akan disiapkan oleh masjid."
Eksistensi Remas di sebuah masjid adalah keharusan. Merekalah yang nanti akan meneruskan tongkat estafet dakwah. Kalau anak-anak remaja jarang ke masjid, bahkan tidak ada sama sekali, maka takmir harus waspada. Itu berarti "lampu merah" sudah menyala.
Penjengukan yang Mengejutkan
Ada seorang sepuh (tua) yang sakit-sakitan. Karena sakitnya, dia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Tim Penjenguk Orang Sakit pun bergegas menjenguknya.
Adik-adik Remas, pengurus, dan beberapa jamaah masjid berjalan kaki bersama-sama menuju rumahnya. Begitu tiba, mereka diterima oleh tuan rumah yang agak terkejut karena kehadiran rombongan itu.
"Kami rombongan dari masjid. Pertama berniat silaturahmi. Kedua ingin menjenguk Mbah yang sedang sakit," kata salah satu pengurus.
"Masyaallah, inggih monggo (silakan). Alhamdulillah, sebentar saya lihat di kamar," ujar tuan rumah.
Beberapa saat kemudian, ia kembali dan mengatakan, "Maaf, ternyata bapak masih tidur."
"Baik, tidak mengapa. Kalau begitu, mohon izin kami mendoakan beliau di samping ranjangnya."
"Oh, monggo."
Dengan hati-hati (supaya tidak mengganggu tidurnya), kami masuk ke kamarnya. Doa dipimpin oleh imam masjid dan diamini semua yang hadir. Selepas itu, rombongan kembali ke ruang tamu.
"Alhamdulillah kami sudah selesai mendoakan. Semoga Allah segera memberikan kesembuhan. Ini ada sedikit oleh-oleh dari masjid, mohon diterima. Kami izin pamit. Salam untuk Mbah."
"Masyaallah. Kok repot-repot. Kami sangat berterima kasih."
Rombongan kembali ke masjid. Beberapa saat kemudian semua menunaikan shalat Isya' berjamaah.
Datangnya Hidayah
Rutinitas di masjid berjalan seperti biasa. Tetapi salah satu pengurus memperhatikan ada "orang baru" berambut gondrong yang rutin menunaikan shalat berjamaah.
Pengurus itu merasa penasaran, kemudian suatu saat menyapanya sambil mengajak jabat tangan,
"Assalaamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalaam," jawabnya.
"Saya kok sepertinya tidak asing dengan wajah njenengan (Anda) ya..."
"Saya Agus (nama samaran -red), menantu Mbah."
"Masyaallah, iya Mas Agus, pantesan kok pernah lihat, tapi di mana gitu," pengurus kemudian mengajaknya ngobrol santai di teras masjid.
Basa-basi sejenak, kemudian pengurus bertanya, "Maaf, apa saya boleh bertanya sesuatu?"
"Silakan, Pak."
"Maaf, sebelumnya kami jarang melihat Mas Agus aktif di masjid ini, tetapi sekarang tampak rutin shalat berjamaah. Apa yang memotivasinya?"
Sambil tersenyum, Agus menjawab, "Bermula ketika Pak Takmir dan rombongan datang ke rumah menjenguk bapak mertua saya yang sedang sakit. Saya merasa trenyuh (tersentuh). Mertua saya sakitnya sudah lama, sudah tidak ada yang menjenguk. Tiba-tiba datang rombongan dari masjid, mendoakan, dan membawakan hadiah. Spontan terbersit dalam hati, saya harus menjadi bagian dari jamaah masjid seperti ini. Akhirnya saya tekadkan untuk memulai berjamaah di masjid."
"Masyaallah, itu rezeki dari Allah, Mas. Bersyukurlah digerakkan oleh Allah menuju masjid."
"Alhamdulillah. Maaf Pak, boleh saya minta tolong?"
"Insyaallah, apa yang bisa kami bantu?"
"Saya mau belajar ngaji..." katanya sambil malu-malu.
"Tentu bisa sekali. Nanti akan disiapkan pengajarnya. Belajar membaca Al-Qur'an ya?"
"Saya belum bisa ngaji. Mau belajar mulai dari awal."
"Maksudnya, dari alif, ba', ta' gitu?"
"Iya, Pak."
Pengurus itu membatin, ternyata pria gagah ini belum bisa mengaji. Dan niat baiknya harus segera disambut, tidak boleh ditunda-tunda.
Sejak hari itu tiap habis Maghrib, Agus rajin belajar mengaji. Bertindak selaku pengajarnya adalah Ketua Remas, yang tempo hari turut menjenguk si Mbah.
Pelajarannya benar-benar dimulai dari awal. Alhamdulillah ia terus istiqamah dalam shalat berjamaah maupun belajar membaca Al Qur'an.
Saat ini Agus telah lancar membaca Al Qur'an. Salah satu aktivitas rutin yang sudah dilakukannya selama bertahun-tahun sampai hari ini adalah membaca Surat Al Kahfi setiap hari Jumat ba'da Shubuh di masjid, hingga waktu syuruq. Alhamdulillah.
* Dikisahkan oleh Haris, pengurus Masjid Al Falah Gadang Kota Malang
Sumber: Rubrik Oase Majalah Suara Hidayatullah Edisi 09/ Rajab 1447 / Januari 2026 halaman 10-11






